“Dia” yang Manis itu ternyata Bernama Ukhuwah

hadits_tentang_cintaMari membuka kembali beberapa lembaran sahabat Nabi SAW berikut ini,

Cerita tentang 3 sahabat Nabi SAW pada perang Yarmuk, saat itu Ikrimah bin Abu Jahal meminta air minum, lalu ia melihat Suhail bin Amr memandangnya, lantas Ikrimah berkata “berikan air itu kepadanya”. Kemudian ketika Suhail juga melihat sahabat yang lain yaitu al-Harits bin Hisyam, Suhail juga melakukan hal sama dengan yang dilakukan Ikrimah. Tetapi belum sampai air minum itu pada al-Harits ketiga sahabat itu telah meninggal tanpa meminumnya sedikitpun.

Cerita tentang sahabat yang kedatangan seorang tamu tetapi ia dan keluarganya hanya mempunyai persediaan makanan yang untuk anak-anaknya saja tidak cukup (ada tapi sedikit sekali). Kemudian sahabat itu meminta istrinya untuk mengajak bermain anak-anaknya, jika anak-anaknya ingin makan malam ajaklah mereka mereka untuk tidur. Dan pada saat tamu tersebut masuk ke ruang makan, dipadamkannya lampu rumahnya. Dan mereka menunjukan seolang-olah sedang makan bersamanya (yang makan hanya tamunya saja). Dan otomatis, malam itupun mereka lalui dengan menahan lapar. Ketika tamunya sudah selesai berkunjung, keduanya menuju Nabi SAW, kemudian Rasulullah memberitakan kabar gembira berupa pujian dari Allah dengan turunnya ayat 9 surat Al-Hasyr.

Ada juga sahabat Nabi SAW yang ketika itu mendapatkan hadiah berupa kepala kambing, kemudia ia berkata
sesungguhnya fulan dan keluarganya lebih membutuhkan ini daripada kita”. Kemudian ia mengirimkan hadiah itu kepada fulan, dan ternyata fulan juga melakukan hal yang sama. Dan itu dilakukan terus menerus dari satu sahabat ke sahabat yang lain sampai berpindah tujuh rumah, dan akhirnya kembali kepada sahabat pertama kali yang memberikan”.

Kisah-kisah pada diatas memberikan pelajaran pada kita bagaimana sahabat mencintai saudaranya. Lantas timbul sebuah pertanyaan, apa yang membuat mereka berbuat demikian?.. Barangkali narasi singkat berikut dapat menjawabnya..

Pada saat kita sedang bersama-sama saudara seperjuangan menjalan suatu agenda dakwah, menjalankan suatu kegiatan seminar, pelatihan, bakti sosial misalnya, maka kita akan melihat dan merasakan berbagai sosok yang spesial, mereka menampakan guratan wajah yang berbeda-beda namun memiliki kesamaan yakni  menampakan perjuangan, guratan wajah mereka menampakan kegigihan, kegigihan yang timbul dari dalam jiwanya, jiwa yang senantiasa menyala, menyala untuk menerangi kita untuk menyusuri jalan terjal, berliku, dan sangat panjang.

Pada momen seperti ini, pasti ikhwahfillah pernah merasakan lelah, terutama fisik (karena kebanyakan syuro pagi-pagi jadi jarang olahraga–semoga saja tidak, hhe), lelah pikiran sekaligus lelah batin, iya pernah merasakan kan?, hhe. Ketahuilah sahabat, lelah yang kita rasakan itu adalah pertanda, pertanda bahwa kita sedang berusaha mati-matian, bahwa kita sedang berusaha mengeluarkan daya dan upaya secara maksimal.

Sesungguhnya rasa lelah itu bukanlah rasa lelah sembarangan, lelah itu lelah anugrah, lelah itu lelah yang manis rasanya, lelah itu membuat kita semakin bahagia, karena terlahir dari rasa kecintaan terhadap Allah, demi meraih ridho dan syurganya, maka lelah seperti ini dapat mengakibatkan tangis, tangis yang sungguh nikmat, tangis karena tak kuasa menahan karunia yang memenuhi lubuk hati. Atau pada saat mabit bareng, saat tilawah bersama-sama, mendengarkan materi bersama-sama, qiyamullail berjamaah, sahabat pasti pernah merasakan kenikmatan berkumpul bersama, kenikmatan itu berupa rasa manis yang timbul didalam hati sehingga rasa itu memenuhi relung-relung hati kian dalam kian manis yang tanpa sadar membuat kita untuk tersenyum-senyum sendiri.

Begitulah pasti para sahabat Nabi SAW merasakan hal yang sama. Rasa-rasa semacam ini juga kita temui ketika dalam agenda yang lain seperti pada perjalanan bersama-sama, bermajlis bersama-sama, berolahraga bersama, dsb. Lalu siapakah penyebab ini semua? Dia yang manis itu ternyata bernama Ukhuwah, dialah yang membuat kita merasakan manisnya dalam hati, dialah yang membuat lelah itu menjadi bukan lelah yang sembarangan, dan dialah pula yang membuat tanpa sadar kita tersenyum-senyum sendiri bahagia.

Allahurabbi, malu rasanya atas keprasangkaan kita terhadap saudara, kelambatan kita atau bahkan ketiada pedulian kita ketika ada saudara yang membutuhkan bantuan, sikap yang memikirkan diri sendiri, semoga ukhuwah ini tetap terjalin sampai bertemu di jannahNya kelak, hingga rasa manis itu menjadi anugrah yang sangat indah. Keindahan yang tiada tara yang tidak akan mampu kita bayangkan..

Advertisements

One thought on ““Dia” yang Manis itu ternyata Bernama Ukhuwah

Tinggalkan Komentar - Tidak Perlu Login

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s