Aktivis Dakwah Merasa Kekeringan Ruhiyah? Waspada!

muslim_prayer_beads
(inet)

Aktivis dakwah kampus merasakan kekeringan ruhiyah? Terlalu proker oriented sehingga melupakan amalan-amalan sunah? Kalau prokernya berupa program mengisi ruhiyah sih bagus, tapi kalau prokernya berupa program pengkikisan ruhiyah bagaimana?

Waspada! Karena dalam tempo yang sesingkat-singkatnya jika kondisi ini terjadi dapat mengakibatkan menurunya kontribusi terhadap dakwah, bahkan penurunannya dapat secara drastis!

Karena kadar seseorang dalam menahan kejenuhan dalam menanggung beban dakwah berbeda-beda. Bisa jadi si fulan kuat dalam berproker oriented dalam kurun waktu berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan tepai si fulan yang lain sudah tidak sanggup lagi dan akhirnya, ia menyerah dan memilih beristirahat — jangan sampai,

Bagaikan lilin ia menerangi ruangan sekitarnya yang semula gelap, namun disaat yang sama lilin itu semakin lama semakin habis dan akhirnya ruangan itu kembali gelap. Begitulah, sebagai aktivis dakwah kita tidak boleh bagaikan lilin, ingin terus menerangi, ingin terus berdakwah tetapi tidak melakukan charge, akibatnya seperti nasib lilin tersebut.

Apakah bahan bakar seorang aktivis dakwah? Ya, kedekatan kepada Rabbnya. Bahan bakarnya adalah ruhiyah. Ruhiyah adalah bekal yang terbaik bagi setiap muslim, khususnya seorang da’i. Berbekal kedekatan dengan Rabbnya inilah, yang akan memotivasi, menggerakkan dirinya. Kemudian menilai dengan hati setiap perbuatan yang dilakukannya. Kondisi ruhiyah yang baik dan stabil menentukan kualitas dakwahnya.

Urgensi ruhiyah ini dapat kita pahami dari pokok-pokok isi dari surat Al-Muzzammil. Yakni petunjuk-petunjuk yang harus dilakukan oleh Rasullulah s.a.w. untuk menguatkan ruhiyah guna persiapan menerima wahyu, yaitu dengan bangun di malam hari untuk bersembahyang tahajjud, membaca Al Quran dengan tartil; bertasbih dan bertahmid; perintah bersabar terhadap celaan orang-orang yang mendustakan Rasul. Akhirnya kepada umat Islam diperintahkan untuk bersembahyang tahajjud, berjihad di jalan Allah, membaca Al Quran, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, membelanjakan harta di jalan Allah dan memohon ampunan kepada Allah s.w.t.

Lalu mana yang harus didahulukan antara ruhiyah dan dakwah?

Kita dapat memahami berkenaan dengan turunya surat Al-Muzzammil. Surat ini dibagi kedalam dua kelompok. Kelompok pertama (ayat 1-19) berisi kewajiban melaksanakan qiyamulail. Barulah kurang lebih satu tahun kemudian turun kelompok kedua (ayat 20) yang berisi keringanan menjadikan qiyamulail menjadi sunah mu’akkadah. Ini dilakukan karena generasi terbaik umat ini dipersiapkan dengan ruhiyah yang mantap sebelum mengemban amanah dakwah yang berat dan berkesinambungan.

Bayangkan saja dalam rangka mengemban beban dakwah sedemikian besarnya, para sahabat mengalami charge ruhiyah paling tidak selama satu tahun secara kontinyu melaksanakan qiyamulail. Bagaimana dengan beban dakwah kita? Bagaimana dengan qiyamulail kita? — saling intropeksi.

Jawaban lebih tegasnya, didalam Al Quran, Allah berfirman,

Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan. Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. QS Al Hajj ayat 77-78

Berdasarkan susunanya, Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman berdasarkan skala prioritas. Diawali dengan menjaga kualitas ruhiyah yakni “ruku, sujud, dan beribadah”. Barulah ruhiyah tersebut menjadi bekal dalam berbuat kebajikan atau berdakwah dalam bentuk amal dan jihad yang benar.

Dengan menjalankan perintah ini tidak lain agar kita senantiasa meraih kemenangan dan keberuntungan terlebih dalam urusan dakwah. Susunan ayatnya tidaklah kebetulan, bukan pula hanya untuk keindahan, tetapi menganduk hikmah yang harus digali karena Al Quran memang bersifat “taufiqi” yakni berdasarkan wahyu dan bukan ijtihad.

Demikianlah sendainya kita merasa kekeringan ruhiyah, bisa jadi kita telah melupakan hak jiwa ini yakni melakukan charge dengan senantiasa melakukan amalan-amalan sunah seperti qiyamulail, shaum, duha, wirid al-ma’tsurat, infaq, dsb.

Juga, mengingatkan kita pentingnya mutaba’ah yaumiah. Karena kadar seseorang dalam menahan kejenuhan dalam menanggung beban dakwah berbeda-beda. Diperlukan suatu standardisasi ruhiyah yang diimplementasikan dengan pelaksanaan mutaba’ah yaumiah. Mungkin setiap pekan, mungkin setiap sebelum syuro, mungkin setiap sebelum melaksanakan agenda dakwah, dsb,

Wallahu ‘alam bish-shawab..

Advertisements

Tinggalkan Komentar - Tidak Perlu Login

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s