Kembali Ke Orisinalitas Dakwah

rmdk-revisedIkhwahfillah, kenyataan hari ini sesungguhnya musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri. Seorang maling yang ingin mencuri dapat kita lihat tetapi musuh didalam selimut justru terlalu pandai bersembunyi.

Setiap saat, internal kita dituntut untuk membangun kedewasaan, kedewasaan seorang Aktivis Dakwah Kampus (ADK). Ketidakdewasaan itu terlihat dari ketidakmapuan menerima perbedaan, memaksakan kehendak, pesimis, pemalas, senang melanggar aturan, jumud, sempit wawasan, serta semua sifat yang berujung pada sifat kekanak-kanakan.

Hari ini kita banyak melihat diantara kita yang malas hadir liqo, malas mengikuti mabit, rihlah, apalagi daurah. Bisa jadi kita tidak memahami pentingnya sarana-sarana penumbuhan menjadi kader yang tangguh tsb. Bisa jadi faktor eksternal lain yang lebih melunakan hati sehingga hati lebih senang melakukannya daripada melaksanakan sarana-sarana tsb.

Kembali Ke Orisinalitas Dakwah

Maka salah satu langkahnya dengan kembali kepada orisinalitas dakwah dengan segala dinamikanya. Kembalinya kita kepada orisinalitasnya akan mewujudkan kemurnian bagi perjalanan dakwah kampus, kita membutuhkan dakwah kampus yang murni. Sebab kemurnian mendatangkan kelanggengan dan ridho Allah swt.

Dakwah kampus yang sehat selalu menjaga pada garis edar orisinalitasnya, untuk kembali ke orisinalitas dakwah berikut ini adalah 5 hal utama, yaitu : Islam, tarbiyah, dakwah, fiqh dakwah, dan manhaj dakwah.

Kembali ke Islam

Apakah kesimpulan dari dua kalimat syahadat yang sering kita ucapkan, itu adalah transaksi antara kita dengan Allah swt berupa totalitas ketundukan hanya kepada Allah swt, inilah esensi keberislaman kita.

Kembali ke Islam tercermin dalam seluruh dimensi dakwah kampus hanya untuk totalitas ketundukan kepada Allah swt, berkat ketundukan ini segala yang kecil akan menjadi besar, akan dapat menghargai perbedaan, memudahkan yang susah, bersemangat, patuh pada auran, dsb.

Kembali ke Tarbiyah

Seluruh proyek yang terdapat pada tarbiyah sesunguhnya adalah proses penempaan diri menjadi pribadi yang berkualitas, bagaikan mengasah pisau terus-menerus hingga ia tajam. perkataan seorang sahabat;

“mereka yang kepergiannya membuatmu merasa rindu, dan kedatangannya membuatmu merasa tenteram, orang yang apabila kau dengar namanya disebut maka kau akan mengingat Allah, yang apabila menatapnya maka semakin bertambah keimananmu, dari setiap tutur katanya selalu memberimu pemahaman baru dan membuatmu ingin segera melakukan kebaikan”.

maka proses penempaan diri itu selamanya akan terus dilakukan, sebagaimana tarbiyah menjadi agenda utama para Nabi dan Rasul. Proses penempaan diri, kemusliman, kejundiyan kita itulah esensi kenapa kita harus tarbiyah.

Karena itu proses penempaan diri bukanlah agenda sampingan yang dilakukan kala senggang. Jika ada ADK yang malas untuk mengikuti sarana-sarana tarbiyah (liqo, mabit, rihlah, daurah, dll), maka ia telah menjauh dari proses penempaan diri, karena kehidupan dunia itu kadang menipu.

Kemampuan memahami makna tarbiyah ini akan menyebabkan kita tidak tertipu oleh kepalsuan kehidupan, tidak ada usaha menjegal saudara sendiri, tidak akan ada sakit hati akut atau kronis yang mematikan, atau bentuk kesalahan memahami kehidupan ini lainnya.

Kembali ke Dakwah

Dakwah adalah segala bentuk transformasi dari keburukan kepada kebaikan, dari nilai-nilai jahiliah kepada nilai-nilai Islam yang hanif. Ketika dakwah telah kehilangan usaha transformasi ini maka ia telah kehilangan seluruh hidupnya (dakwah mati).

Intinya kembali ke dakwah berarti menanamkan kembali sebuah aktivitas semangat dan upaya untuk mentransformasi kehidupan secara sempurna, menyeluruh, universal, integral menuju kehidupan yang lebih baik.

Kembali ke Fiqh Dakwah

Adanya fiqih dakwah sebagai rambu-rambu jalan bagi dakwah Islam. Bagaimana jika kita tidak mengenali rambu-rambu yang ada di jalan? Maka segala kecelakaan dan keruwetannya akan terjadi, kita tidak akan dapat berjalan, tersesat, dan mendapatkan musibah.

Kembali ke fiqh dakwah adalah kembalinya kita kepada rambu-rambu yang menjaga dan mengiringi perjalanan dakwah. Diantara rambu-rambu yang penting yang harus selalu diingat dalam perjalanan dakwah kita adalah: memberi keteladanan sebelum mendakwahi, mengikat hati sebelum menjelaskan, mengenalkan sebelum memberi beban, memudahkan bukan menyulitkan, yang pokok sebelum cabang, membesarkan hati sebelum memberi ancaman, memahamkan bukan mendikte, mendidik bukan menelanjangin, dan muridnya guru, bukan muridnya buku.

Kembali ke Manhaj Dakwah

Sebagaimana serigala akan memangsa domba yang sendirian, begitupula serigala yang berkawan akan lebih mudah mendapakatkan makanan. Orang-orang yang sendirian akan terjebak kecerdasan yang bohong dan kesombongan yang rapuh, hanya dengan bersama-sama kita akan menemukan kecerdasan paripurna.

Sama halnya dengan dakwah sendiri dengan dakwah secara bersama-sama. Apa yang dapat dilakukan oleh seorang ADK sendirian, dibanding ia bergabung dengan sekumpulan ADK yang menjelma kedalam LDK? Tentu dengan bergabung akan menghasilkan kekuatan yang berlipat-lipat dibanding sendirian.

Manhaj merupakan sperangkat aturan yang menjadi koridor dalam kerbersamaan tersebut. Manhajlah yang menjaga dan mewujudkan kebersamaan tersebut. Tidak ada manhaj berarti tidak ada kebersamaan, ketika manhaj diabaikan maka kebersamaanpun terabaikan, sebagian saudara kita mundur dari perjuangan dakwah ini justru karena ketidakmampuannya memahami esensi manhaj sebgai suatu hal yang penting dalam kebersamaan tersebut, kurang pemahaman atau bahkan sama sekali tidak mengetahui manhaj tersebut.

Maka aturan-aturan yang telah disepakati, AD/ART, Pola Kaderisasi, dan semisalnya, apabila dilanggar atau diabaikan atau tragisnya tidak diketahui oleh pengurusnya bagaimana mereka bisa disebut sebagai suatu kelompok. Kita harus kembali kepada aturan yang telah disepakati, jika aturan mengharuskan langkah a,b,c maka jangan lakukan a,c. Jika syarat pengurus mengharuskan mengikuti suatu daurah maka jangan menerima pengurus yang tidak mengikutinya, misalnya.

Kelima hal diatas harus selalu menjadi nafas dalam berdakwah kampus, dari sinilah kita memulai, dengan memulai kembali kepada kepada hal-hal yang pokok.

Wallahu ‘alam.

———————-

*disari dari buku Menuju Kemengan Dakwah Kampus karya Ahmad Atian.

Advertisements

Tinggalkan Komentar - Tidak Perlu Login

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s