Dakwah Tepat Sasaran

Istilah ini sangat populer, yakni 4L (Lo Lagi Lo Lagi) kejadian dimana pesertanya itu-itu melulu, muka-mukanya familiar banget eh ternyata kita-kita juga. Padahal acara ini bukan diperuntukan untuk kita tapi kenapa malah kita yang rame disini… *curcol nich šŸ˜€

Secara gitu kan kalau kita semakin banyak mengadakan acara yang islami kan berarti kampus kita semakin islami, apakah benar? Emangnya definisi islami dilihat dari banyaknya kegiatan keislaman?

Padahal kita sangat semangat mengcreate acara-acara itu, supaya acara itu berjalan sesuai dengan yang kita inginkan. Tapi saudaraku, ijinkan saya mengingatkan kembali bahwa afiliasi objek dakwah atau tingkat penerimaan objek dakwah itu berbeda-beda. Artinya perlakuan kita pun juga harus berbeda-beda.

Hasan Al-Banna menyebutkan ada tiga tahapan dakwah, yakni ta’rif, takwin, dan tanfidz. Bukan berarti sampai tanfidz terus dakwah selesai. Tiga tahapan ini adalah tahapan yang sejatinya kita ulang-ulangi dalam kurun waktu tertentu, bahkan dapat dilaksanakan berbarengan.

Untuk memahaminya, kita mulai dengan mengubah sudut pandang kita. Keluarlah dari sudut pandang diri sendiri, keluar terus jangkau sudut pandang objek dakwah dan memandanglah, pandanglah kita sebagai subjek dakwah dari sudut pandang mereka.

Dari sudut pandang ini, kira-kira apa yang kita rasakan? Ada yang pasif tidak peduli, tidak merasa penting baginya, Lalu ada yang menerimanya, bahwa sepertinya ini adalah jalan yang harus ditempuh. Lalu ada pula yang menyambutnya dengan suka cita. Dan puncaknya ada pula yang mengangapnya sebagai sesuatu yang memiliki prioritas tinggi, sehingga seolah-olah menjadi wajib baginya. Tetapi bahkan ada pula yang membencinya.

Lihatlah saat ini kita berada di kerumunan objek dakwah yang jumlahnya sangat banyak yang bisa jadi pandangan mereka lebih bermacam-macam dari yang dicontohkan diatas. Mau apa kita berada dikerumunan ini? Mau ngajak sebagian, atau semuanya?

Jawabannya pasti semuanya donx. Nah ini pertanyaanya, dengan tingkat penerimaan yang berbeda-beda itu bagaimana cara yang akan kita tempuh? Kita samakan caranya untuk semuanya, atau kita bedakan caranya tergantung pada tingkat penerimaannya?

Gambar dibawah ini memetakan tiga tahapan tersebut menjadi sebuah alur dari bermacam-macam tingkat penerimaan yang ada.

Tahapan Kaderisasi DakwahGambar 1. Tahapan Dakwah

Jadi sederhananya tiga tahapan itu membuat alur sehingga keberlangsungan tingkat penerimaan dapat bertransformasi. Lebih tepatnya itu disebut sebagai siklus, bisa siklus semesteran, siklus tahunan, dll. Artinya kita mengulang siklus ini dalam kurun waktu tersebut, agar semakin banyak objek dakwah yang bertransformasi agar semakin banyak yang tadinya pasif menjadi menerima, menerima menjadi pendukung, pendukung menjadi subjek dakwah.

ta’rif (penyampaian)

Merupakan sebuah tahapan awal dari dakwah dimana pada tahapan ini dakwah bertujuan untuk memberikan ilmu tentang Islam itu sendiri dan mengubah suatu pandangan yang jahiliyah menjadi pandangan yang islami.

Output dari tahapan ini adalah transformasi objek dakwah dari pasif menjadi penerima terhadap dakwah.

takwin (pembinaan)

Pada fase ini dakwah mulai memberikan perhatian lebih kepada objek dengan tujuan penanaman sebuah pola fikir (fikroh) yang islami mulai memberikan kesempatan kepada objek dakwah untuk latihan beramal.

Output dari tahapan ini adalah transformasi barisan yang mau menerima dakwah menjadi barisan pendukung dakwah.

tanfidz (pelaksanaan)

Tahap ini memberikan titik tekan pada sebuah hasil yang diridhoi Allah SWT sehingga memberikan sebuah dorongan untuk bekerja dan merupakan sebuah tahapan dimana objek dakwah terdahulu bertransformasi menjadi subjek dakwah.

Oke berarti sekarang kita punya 3 bidang garapan, bagaimana pembagiannya? Kita akan ambil contoh ranah dakwiy. Dimana isinya adalah syiar dan kaderisasi. Syiar adalah marketing, memarketisasi Islam, dan kaderisasi adalah mengajak objek dakwah untuk menjadi subjek dakwah. Ya iya donx masak dakwah ini tidak ada yang meneruskan, dakwah adalah mengajak, dan mengajak dalam hal ini mengajak mereka agar menjadi subjek dakwah.

Pembagian Tugas syar dan KaderisasiGambar 2. Pembagian Tugas Syiar dan Kaderisasi

Peranan Syiar

Maka peranan syiar berada pada tahapan ta’rif dimana fokusnya adalah mengajak sebanyak-banyaknya mereka yang masih pasif (penonton) menjadi menerima dakwah ini, karena dengan menerima maka akan lebih mudah untuk diajak pada tahapan berikutnya.

Peranan Kaderisasi

Setelah syiar menjadi pengumpan, memancing masa sebanyak-banyaknya agar menerima dakwah ini, maka tugas kita selanjutnya adalah mengajak, mengajak mereka untuk menaiki tahapan selanjutnya yakni pembinaan dan pelaksanaan.

Penyesuaian Tahapan

Maka dari itu perlakuan kita terhadap setiap tingkat penerimaan pastilah berbeda-beda. Fenomena yang disampaikan diawal tentang istilah 4L itu sejatinya kita tidak membedakan perlakuan/cara dalam mengajak sesuai tingkatan penerimaan mereka terhadap dakwah. Disini kita menggeneralisir tingkatan penerimaan itu sehingga terjadilah yang namanya dakwah tidak tepat sasaran. Masing-masing punya rumusnya sendiri.

Pasif (Penonton)

Rumusnya adalah “what do you want?”

Benar-benar perlakukan mereka layaknya customer yang permintaanya harus bisa kita penuhi. Cobalah untuk mempermudah semudah-mudahnya, mereka adalah yang sedang dimanjakan bagaikan orang tua yang sangat sayang kepada anaknya.

Kegiatan untuk objek dengan tingkatan penerimaan ini adalah kegiatan yang mereka butuhkan, yang mereka sukai, yang mereka mau. Kita benar-benar tidak punya hak kecuali sebatas memastikan kegiatannya tetap syar’i, bukankah syar’i itu banyak pilihannya?

Utamakan pelayanan, melayani kebutuhan sehingga membantu menjalankan aktivitas mereka. Maka kegiatan-kegiatan seperti belajar bareng,Ā  free pelatihan desain, free pelatihan pemrograman, futsal bareng, makan bareng,Ā  jalan-jalan bareng, ke tempat wisata, dll bisa jadi alternatif.

Harapan yang kita inginkan adalah keberadaan kita dirasakan bermanfaat oleh mereka, dirasakan ada gunanya kita berada di tengah-tengah mereka. Mereka menganggap kita sebagai sesuatu yang memang harus ada, bukan sebaliknya.

Menerima

Rumusnya adalah “yuk”

Setelah mereka mau menerima keberadaan kita, selanjutnya adalah “yuk”, kita ajak mereka, kita ajak mengikuti pembinaan keislaman. Dimana pada fase ini tiket masuknya adalah mau menerima keberadaan kita, arenanya adalah sarana-sarana pembinaan keislaman.

Kegiatannya mulai kita arahkan dalam rangka pembinaan. Bisa berupa mentoring, kajian, mabit, rihlah, pelatihan kepemimpinan berbasis keislaman, diberikan tugas buku bacaan wajib dll bisa menjadi alternatif pilihan.

Pendukung

Rumusnya adalah “awas kalau gak datang!”

Pada tingkat penerimaan ini, mereka sudah memiliki rasa ketertarikan, keyakinan, dan kebutuhan. Tetapi mereka masih tetap butuh untuk diingatkan. Islam beberapa kali mengingatkan tentang akan adanya kejadian-kejadian atau sesuatu yang buruk yang akan menimpa kaum muslimin, maka memperingati itu tidak salah. Jadi pada tingkat penerimaan ini mereka sudah mampu menerima untuk diingatkan.

Subjek

Rumusnya adalah “antum sudah memahami urgensinya”

Pada tingkat penerimaan ini, kita tidak perlu lagi mengingatkannya karena mereka sudah memahami urgensi dan menyadari pentingnya menyambut kegiatan-kegiatan keislaman. Karena mereka bukan lagi sebagai objek, tapi kini telah berubah menjadi subjek yang tugas mereka adalah mengajak bukan diajak.

Contoh Rekayasa

Misalkan kita akan mengadakan sebuah acara seminar keislaman dikampus, dengan sasaran adalah semua kalangan mahasiswa umum. Maka kita berharap acara ini mendapat sambutan yang baik dari kalangan mahasiswa.

Baik langkah pertama adalah mengubah sudut pandang, keluarlah dan pergilah melihat dari sudut pandang sasaran dakwah. Dapat kita rasakan bahwa kini kita adalah sekumpulan mahasiswa dengan berbagai macam tingkat penerimaan.

Bagi mereka yang menerima kita lakukan ajakan, bagi mereka yang mendukung kita peringati, dan subjek dakwah adalah kita sendiri sebagai pelaku dakwah.

Nah, bagaimana mereka yang pasif? Sesuai rumus diatas adalah “what do you want?”, jadi apa yang mereka mau supaya mereka datang? Disinilah seninya syiar, kita mengusahakan dengan berbagai metode yang kita ikhtiarkan.

Jemput Bola

Jika yang mereka inginkan adalah desain poster yang menarik dengan pilihan diksi yang mengikat mata, maka berikan desain poster yang menarik dengan diksi yang mengikat mata.

Jika mereka menginginkan hadiah maka berikan suatu hadiah yang sesuai kadar kemampuan kita.

Jika mereka belum kenal siapa kita maka pergilah silaturrahim ke tempat tinggalnya.

Jika mereka belum menganggap keberadaan kita maka pergilah ke tempat tinggalnya dan bantulah kesulitannya.

Dan seterusnya, mereka minta apapun penuhilah sampai kita tidak dapat memenuhinya. Dan jika mereka membencimu, maka berdoalah kepada Allah Swt yang maha membolak-balikan hati, karena sesungguhnya Dialah sebenar-benarnya tempat berharap dan berserah diri.

At tadhhiyyah atau pengorbanan merupakan sesuatu yang sangat dibutuhkan dalam perjuangan apapun. Perjuangan di jalan yang bathil memerlukan pengorbanan, karenanya mereka yang berjuang di jalan yang bathil juga menunjukkan pengorbanan yang besar. Apalagi perjuangan di jalan yang haq. Bahkan sekedar untuk menyenangkan diri melalui hobinya, dengan rela seseorang mau berkorban dengan segala potensi yang dimilikinya.

Kalau mereka yang berjuang di jalan yang bathil atau sekedar hobi saja mau berkorban, mengapa kita yang berjuang di jalan yang haq tidak mau?. Padahal Allah Swt akan memberikan imbalaan yang sangat besar bagi mereka yang berkorban dengan penuh keikhlasan di jalan Allah Swt. Oleh karena itu, Ustadz Hasan Al Banna menyatakan: ā€œpengorbanan yang dimaksudkan adalah mengorbankan jiwa, harta, waktu, kehidupan dan semua potensi untuk mencapai tujuanā€. Setiap pengorbanan dalam memperjuangkan agama ini tidak ada yang sia-sia, bahkan mendapat pahala yang besar di sisi Allah Swtā€. Inilah yang dimaksud dengan slogan: ā€œMati di jalan Allah adalah cita-cita kami yang tertinggiā€.

Propaganda

Media tepatlah mempunyai peran utama terlebih pada jaman sekarang, pergunakanlah media sebagai penyampai informasi yang optimal. Pernahkah mendengar suatu perusahaan mempunyai puluhan marketing dunia maya? Buatlah gerakan untuk melakukan propaganda di dunia maya secara masif, serentak, sehingga dapat memperluas jangkauan.

Direct Marketing

Sebelum hari – H, kegiatan-kegiatan yang turun langsung ke lapangan sangatlah dianjurkan, turun langsung dipusat keramaian dengan membagi-bagikan souvenir yang bermanfaat (pulpen, permen, air mineral, buletin). Membuat aksi tetatrikal menarik perhatian masa. Atau melakukan aksi yang berkaitan dengan tema kajian. Mendatangi asrama, melakukan silaturrahim, mengadakan makan bersama, belajar bareng, membantu menyelesaikan urusan rumah nya bisa juga menjadi alternatif.

Kita memang selayaknya melakukan “jemput bola” bagi mereka yang masih pasif. Kita memang ada maunya melakukan semua kebaikan itu, tapi mau kita adalah mulia, mau kita adalah seruan, dan seruan itu adalah dakwah, agar semakin bertambah barisan-barisan yang memperjuangkan agama Allah Swt, maka mau seperti ini mendapat ganjaran yang banyak.

Seleksi – Follow Up

Nah, tujuan utama syiar adalah menstranformasi dari pasif menjadi menerima sebanyak-banyaknya. Bagaimana dengan kegiatan ini? Bagaimana kita tahu mana yang telah berstransformasi?

Bisa kita ambil contoh, misalnya kita punya program sms tausyiah. Maka selipkan di slide saat seminar berlangsung, selipkan di slide mekanisme untuk mendaftar sms tausyiah tersebut, beru waktu secukupnya, dan lalukan saat itu juga.

Maka besar kemungkinan diantara peserta yang banyak akan ada beberapa sejumlah peserta yang lekas mengambil hp nya dan melakukan pendaftaran. Tapi ingat hindari data privasi seperti nama, nim, kelas, harus berhati-hati karena mereka sebagian besar masih : pasif. Cukup REG_TAUSYAH saja sudah cukup.

Bagaimana selanjutnya? Nah, mereka itulah yang sudah bukan pasif lagi, kini mereka telah menerima dan selanjutnya fungsi kaderisasi berjalan pada fase ini, terus bina mereka dan persiapkan untuk menjadi subjek dakwah selanjutnya.

Demikianlah siklus dakwah ini bagaikan sebuah modul yang menerima input dan mengeluarkan output, keberadannya untuk menjaga keberlangsungan kaderisasi agar dakwah dapat terus berjalan dan tumbuh.

Pemahaman

Demikianlah menjadi aktivis dakwah tidak boleh cuma asal semangat, tetapi juga harus dilengkapi dengan pengetahuan, Rasulullah Saw dan para pendahulu kita telah memberikan contoh bagaimana cara berdakwah, maka menjadi aktivis dakwah juga otomatis harus mempunyai metode, metode yang kita ikhtiarkan untuk mencari ridho Allah Swt.

Sebelum memulai itu semua yang melandasinya adalah pemahaman. Kenapa bermula dari sini ? Karena lebih prioritas, Ilmu lebih diprioritaskan dari perkataan dan perbuatan. Kenapa tidak diungkapkan dengan ilmu ? Karena paham adalah tujuan dari ilmu (Yusuf Qardawi). Ilmu sesungguhnya bukan dengan banyaknya hafalanĀ  tetapi dalamnya pemahaman. Paham adalah prinsip pengetahuan. Allahu’alam bishowab.

referensi : Membina Angkatan Mujahid — Said Hawwa.

Advertisements

One thought on “Dakwah Tepat Sasaran

Tinggalkan Komentar - Tidak Perlu Login

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s