Tilawah cs Aktivitas

Teman saya ada yang tilawahnya sampai sekian juz perhari, bahkan ada yang lebih diatas normal (kayak judul lagu :D), subhanAllah. Bahwa dakwah ini dibangun dari kecintaan kepada Allah, ukhuwah sesamanya, dan kecintaanya berjuang dijalanNya, sehingga kedekatan dengan Allah yang salah satunya dengan menjaga tilawah harian menjadi sesuatu yang urgen. Namun tulisan ini bukan membahas bagaimana cara untuk mendapatkan tilwah sekian juz perhari, melainkan bagaimana mengubah pola tilawah kita. Maksudnya??

Sekarang ini, mindset yang berkembang di masyarakat, tilawah adalah suatu aktivitas yang membutuhkan ruang yang sunyi, jauh dari keramaian, harus tenang, nyaman, tentram, dsb. Akhirnya, tilawah menjadi aktivitas di waktu-waktu tertentu saja, biasanya bada subuh dan bada magrib. Nanti aja deh bada magrib, nanti aja deh menjelang tidur, nanti aja deh nunggu sela, dan nanti-nanti deh yang lain. Nanti itu belum tentu terlaksana.

Kembali Ke Pola Terdistribusi

Lalu pola seperti apa yang dimaksud? Pola yang dimaksud adalah pola tilawah terdistribusi. Tilawah tidak harus menunggu nanti, tidak perlu menunda. Tilawah dapat dilakukan kapanpun dan dimanapun, di waktu senggang, sehingga bukan tilawah vs aktivitas melainkan tilawah cs aktivitas. Nah, kita akan coba terapkan, bagaimana menerapkan pola tilawah terdistribusi ini sehingga tilawah sampai sekian juz perhari seperti teman saya itu tidak lain hanyalah efek saja dari penerapan pola tilawah terdistribusi ini.

Keutamaan Menjaga Kedekatan Dengan Al-Qur’an

Ada kesedihan Rasulullah SAW yang tidak digambarkan dalam suatu hadits, bayangkan kesedihan beliau kali ini digambarkan langsung di dalam Al-Qur’an. Kesedihan seperti apa sehingga sampai dimuat didalam Al-Qur’an?

Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan.” Al-Furqaan : 30

Sesuatu yang tidak diacuhkan, tidak dipedulikan, dijauhi. Bayangkan hal yang amat membuat Rasulullah SAW sedih, sehingga kesedihannya sampai digambarkan didalam Al-Qur’an karena umatnya tidak mempedulikan dan menjauhi Al-Qur’an.

Siapa yang tidak yakin bahwa Al-Qur’an menjadi pedoman yang akan mengantarkan kepada kebahagiaan yang hakiki? Betulah bahwa jika ingin menghacurkan umat Islam, tinggal jauhkan saja dari Al-Qur’an! Jika kita mengamini perkataan ini lantas mengapa kita masih malas untuk berinteraksi dengannya? Apakah kita belum menyadari bahwa kedekatan interaksi kita dengan Al-Qur’an menjadi kunci dari segalanya?

Di kutbah terakhit saat menjelang Rasulullah SAW wafat,

Wahai ummatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertawakalah kepada-Nya.

Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al-Qur’an. Barang siapa mencintai sunnahku, berarti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersamaku.

Sebegitu dalamnya cinta Rasulullah SAW kepada ummatnya. Ummatnya yang tak pernah beliau temui, yaitu kita. Bahkan kabar gembira dari Jibril tentang dibukanya pintu-pintu surga tidak membuat beliau bahagia, tapi malah menanyakan keadaan ummatnya kelak. Beliau berkata ummati.. ummati.. ummati..

Padahal Al-Qur’an akan menjadi syafaat kelak:

”Bacalah al-Qur’an, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat nanti memberi syafaat bagi orang yang membacanya.”(H. R. Muslim).

Menjadi orang yang terbaik di antara manusia:

”Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan yang mengajarkannya” (H.R. Bukhari).

Dikelilingi  malaikat dan Allah menyebut nama-nama mereka:

”Tidaklah suatu kaum berkumpul dalam salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitabullah (al-Qur’an) dan mempelajarinya, melainkan ketenangan jiwa bagi mereka, mereka diliputi oleh rahmat, dikelilingi oleh para malaikat, dan Allah menyebut nama-nama mereka di hadapan para Malaikat yang ada di sisi-Nya.” (H.R Muslim).

Mendapat tempat istimewa di surga:

”Orang yang pandai membaca Al-Qur’an akan ditempatkan bersama kelompok para Malaikat yang mulia dan terpuji. Adapun orang yang terbata-bata dan sulit membacanya akan mendapat dua pahala.” (H.R Bukhari & Muslim).

Mendapa  pahala yang berlipat ganda:

Dari Abdullah Ibnu Mas’ud RA, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa membaca satu huruf dari kitabullah, maka baginya kebaikan dengan satu huruf itu, dan satu kebaikan akan dilipatgandakan 10 kali lipat. Aku tidak mengatakan bahwa, “Alif, lam, mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (HR at-Tirmidzi, dia mengatakan, “Hadis hasan shahih.)”

Pola Tilawah Terdistribusi

Ada beberapa prinsip dalam menerapkan pola ini, diantaranya:

– terdistribusi (tidak rapel)

Lebih berat mana tilawah langsung sekian juz atau dengan cara di cicil per beberapa halaman tapi konsisten? Pertanyaanya bukan hari ini kita mau tilawah sekian juz *biasanya sambil berangan-angan :D, tapi hari ini kita ingin konsisten tilawah sekian lembar per 2 jam *misalnya :D.

Karena sistem rapel ini menurut pengalaman (saya  :D) tidak akan bertahan lama, karena banyak faktor (agenda yang cukup padat, kelelahan, dsb) maka hindari rapel.

– tidak menunda

Jika ada waktu senggang segera ambil Qur’an dan tilawah. Biasanya waktu-waktu senggang kita saat bermain sosial media di internet, menunggu pesanan makanan, menunggu teman, dsb. Konsekuensi dari tidak menunda adalah kita harus tidak malu, karena tilawah bisa dimanapun, di angkot, di bus, di taman, di kelas, di lab, dll.

Mari buktikan! Berapa lama kita bermain sosial media? Berapa lama kita bengong? Saya yakin sekali, setiap kita bengong memakan waktu kira-kira lebih dari 3 menit! Sederhananya, jika 1 huruf bernilai 10 kebaikan. Perhatikanlah mushaf kamu, setiap baris mengandung 30-35 huruf. 1 halaman terdiri dari 15 baris. Kecepatan tilawah kita (rata-rata) untuk mendapatkan 2 halaman kira-kira 3 menit. Berarti selama 3 menit, kita akan diganjar 30 huruf * 15 baris * 2 halaman * 10 kebaikan = 9.000 kebaikan, subhanAllah. Apakah kita masih malu dengan 3 menit demi mendapat 9.000 kebaikan?

– sesering mungkin tapi seringan mungkin

Biasanya baru tilawah sedikit halaman saja sudah berat rasanya, bagaimana mengatasi ini? Jika kita baru sanggup sekali jalan 2 halaman, tidak apa-apa tapi sesering mungkin. 2 halaman tiap setengah jam, atau 2 halaman tiap satu jam misalnya.

– konsisten

Tentu saja, seperti yang disampaikan bahwa cara ini bukanlah untuk mendapatkan lonjakan tilawah harian, bukan itu. Tetapi ingin mengembalikan pola tilawah dari mindset umum seperti dipaparkan diatas kembali kepada pola tilawah terdistribusi.

Kekonsistenan dimulai dari yang terkecil, lama-lama akan menjadi besar. Mungkin untuk saat ini kita baru sanggup sekian halaman setiap jam, tapi jika dilakukan konsisten ( 1 bulan misalnya) insyaAllah akan meningkat dan perubahan pola kembali ke pola tilawah terdistribusi akan tercapai.

Studi Kasus

Teknisnya, bagilah waktu harian kita menjadi beberapa slot waktu kecil yang sama besar. Misal perjam, atau perdua jam. Disarankan per dua jam mengingat padatnya aktivitas, atau per jam juga boleh. Tapi jangan per 6 jam atau per 12 jam ya, karena itu sama dengan tidak mengubah pola 😀

Sebelum melakukan praktek, mari hitung kecepatan tilawah kita. Cobalah ambil jam dan tilawahlah selama 10 menit. Setelah dicoba, kecepatan tilawah saya 6 halaman selama 10 menit.

Kita akan mencoba menerapkan dengan membagi menjadi perjam. Ingat! Bukan sekian juz perhari, tapi sekian halaman per waktu yang kita inginkan. Ok, kita targetkan tilawah 6 halaman setiap satu jam. Jika sesuai percobaan perhitungan kecepatan tilawah diatas, artinya kita harus mengalokasikan waktu 10 menit setiap jam nya dimulai pukul 06.00 pagi – 06.00 besok paginya lagi. Oke, ini pengalamannya.

Sesuai prinsip diatas,

– terdistribusi (tidak rapel) : per jam

– tidak menunda : jika bisa lakukan di awal dan jangan tunda. contohnya, jika bisa dilakukan pukul 06.00 – 06.10 jangan menunda di pukul 06.50 – 07.00

– sesering mungkin tapi seringan mungkin : target 6 halaman. tidak harus terpaku harus langsung 6 halaman. jika benar-benar sibuk, bisa di split lagi misal 3 halaman di setengah jam pertama kemudian 3 halaman lagi di setengah jam kedua. jika masih ingin di seplit, silakan.

– konsisten : usahakan sebisa mungkin dapat 6 halaman tiap jam, sesuai prinsip sebelumnya ya, yang jelas selama satu jam dapat 6 halaman. entah di split per 10 menit 1 halaman, tergantung kesibukan dan kondisinya.

Baik, lets start!

Hmm tapi saya tidak ingat persis waktu tepat nya jam berapa ya, setelah di ingat-ingat kurang lebih seperti ini.. hehe..

06.00 – 07.00 dapet tilawah di pukul 06.20 – 06.30 sebelum berangkat joging (6 halaman)

07.00 – 08.00 dapet tilawah di pukul 07.40 – 07.50 seusai sarapan (6 halaman)

08.00 – 09.00 dapet tilawah di pukul 08.50 – 09.00 setelah mandi (6 halaman)

09.00 – 10.00 dapet tilawah di pukul 09.40 – 09.50 begitu tiba di ruang jurnal TA di kampus (6 halaman)

10.00 – 11.00 dapet tilawah di pukul 10.00 – 10.10 jeda ngerjain TA (6 halaman)

11.00 – 12.00 dapet tilawah di pukul 11.00 – 11.10 jeda ngerjain TA (6 halaman)

12.00 – 13.00 dapet tilawah di pukul 12.10 – 12.12 bada shalat zuhur ( 2 halaman ), dapet tilawah di pukul 12.20 – 12.21 nunggu pesan makanan (1 halaman), dapet tilawah di pukul 12.40 – 12.43 sambil duduk cari angin (menghilangkan efek kekenyangan setelah makan :D) sebelum balik lagi ke ruang jurnal TA 🙂 (3 halaman)

13.00 – 14.00 dapet tilawah di pukul 13.10 – 13.20 jeda ngerjain TA (6 halaman)

14.00 – 15.00 dapet tilawah di pukul 14.30 – 14.40 sebelum shalat ashar (6 halaman)

15.00 – 16.00 dapet tilawah di pukul 15.20 – 15.25 bada shalat ashar (3 halaman)

16.00 – 17.00 dapet tilawah di pukul 16.50 – 17.05 sebelum balik lagi ke ruang jurnal TA (9 halaman)

17.00 – 18.00 dapet tilawah di pukul 17.40 – 17.50 balik dari ruang jurnal TA sembari nunggu azhan magrib (6 halaman)

18.00 – 19.00 dapet tilawah di pukul 18.20 – 18.25 bada magrib (4 halaman)

19.00 – 20.00 dapet tilawah di pukul 19.30 – 19.33 bada isya (2 halaman)

20.00 – 21.00 dapet tilawah di pukul 20.10 – 20.20 nunggu rapat dimulai (6 halaman), dapet tilawah di pukul 20.30 – 20.40 nunggu rapat di mulai (6 halaman) belum di mulai juga rapatnya 😀

21.00 – 22.00 tidak sempat, karena rapat terus berjalan 😀

22.00 – 23.00 dapet tilawah di pukul 22.10 – 22.20 pulang dari rapat (6 halaman)

23.00 – 00,00 dapet tilawah di pukul 23.55 – 23.03 sembari istirahat nulis tulisan ini 😀 (4 halaman)

00.00 – 04.00 istirahat

Analisi Percobaan Penerapan Pola Tilawah Terdistribusi

Setelah di akumulasikan jumlah halaman : 100 halaman. Berarti 5 juz karena 1 juz terdiri dari 20 halaman. Dari pelaksanaan percobaan diatas, sebelum pukul 10.00 pagi kita sudah dapat 1 juz, sebelum pukul 13.00 dapat 2 juz, pukul 17.00 dapat 3 juz, sebelum pukul 21.00 dapat 4 juz sebelum tidur sudah dapat 5 juz.

Ingat lagi! Bukan sekian juz nya, tapi orientasi kita harus kepada pola distribusinya. Dan orientasi ini harus dengan gigih diupayakan. Pada contoh diatas kita tetap bisa melakukan aktivitas seperti biasa, joging, mengerjakan TA, ngobrol bareng teman, rapat, dll.

Pengalaman Training Quantum Tilawah Metode T.E.S

Apa yang dipaparkan ini sebenarnya  berkat mengikuti pelatihan ini, seluruh cara berdasarkan adopsi dari pelatihan ini. Kita harus bersyukur dengan ditemukannya metode ini. Saya sangat merekomendasikan untuk mengikuti pelatihan ini, karena :

  • Minimal kita telah berniat, dan secara tidak langsung telah mengondisikan jiwa, pikiran, dan tubuh kita untuk berubah menjadi lebih baik. Memang ini hanyalah salah satu metode dan tidak akan mendapat dosa jika tidak mengkutinya. Tapi dengan menganggap menjaga tilawah adalah suatu hal yang penting, dengan hadir di pelatihan, maka kita akan menyisihkan waktu, mungkin memindah agenda, mengorbankan sebagian hal, dll. Kita bisa saja memilih untuk meminta tolong kepada teman yang ikut untuk membuatkan catatan untuk kita, tapi harusnya itu setelah kita berusaha untuk bagaimana cara nya bisa ikut pelatihannya. Berbeda bukan, jika kita masih belum menganggap sesuatu itu hal yang penting, maka tentu saja prioritasnya berbeda
  • Mendapat suntikan motivasi. Kita akan dimotivasi kenapa harus menjadi generasi yang dekat dengan Al-Qur’an. Terlebih kita sebagai aktivis dakwah, kita sama-sama memahami bahwa menjaga tilawah merupakan suatu hal yang penting.
  • Mendapat pengontrolan selama 1 bulan. Selama 1 bulan, nantinya kita akan mendapat sms remainder setiap 2 jam dan kita akan report progres tilawah kita setiap hari. Manfaatkan pendampingan 1 bulan ini untuk mengubah kembali pada pola tilawah terdistribusi.
  • Dapat banyak teman. Hehe.. lebih asik dan seru kalau berjuang bersama-sama bareng teman, sekaligus silaturrahim 😀

Beberapa Saran

  • Alhamdulillah kita masih selalu diberi nikmat waktu, kemudahan oleh Allah, segala kemudahan datang dari pada-Nya. Dengan mengkontinyukan tilawah ternyata itu membawa keberkahan bagi pembacanya, silakan dibuktikan 😀
  • Dilarang keras : RAPEL! ini pengalaman hehe, misalnya kita kebut semalam sekian juz, mungkin bagi sebagian orang sudah terbiasa sekaligus banyak. Tapi sebaiknya jangan, karena tidak akan bertahan lama, faktornya banyak, terutama kesibukan dan kelelahan, ketika down kita harus memperbanyak istighfar, terus memperbaiki niat, dan berdoa kepada Allah agar selalu dimudahkan tilawah, dan satu lagi cari teman untuk mengingatkan 😀
  • Ingat, ini bukan bagaimana cara dapat tilawah sekian juz dalam satu hari, saya yakin masih banyak orang yang mampu tilawah jauh lebih dari itu dalam sehari, tapi itu memerlukan kebiasaan dan ditempuh dalam waktu lama sehingga kecepatan tilawahnya pun diatas rata-rata. Tapi, tidak usah kawatir dengan kecepatan tilwah kita yang tergolong rata-rata, ini kembali kepada pola terdistribusi, insyaAllah jika konsisten kita akan menjadi menghargai betapa waktu itu sangat berharga! Karena dengan menerapkan cara ini, waktu-waktu bermain, senda gurau, internetan yang gak penting itu akan berkurang, dan sebaliknya kita akan mendapati pengalaman berkahnya aktivitas dibarengi dengan ruhiyah yang selalu terjaga secara kontinyu.
  • Akan terjadi kenaikan dan penurunan jumlah tilawah, tapi itu wajar selama kita berorientasi kepada menjaga pola tilawah terdistribusi kenaikan atau penurunan tidak akan terlalu siginifikan.
  • Milikilah jam tangan, jangan pakai hp karena hp itu untuk nelpon dan sms *hehe. Karena dengan memiliki jam tangan, kita bisa dengan cepat mengetahui waktu saat ini dan dalam kondisi apapun (kerja, belajar, naik kendaraan, dsb), kalau hp kan ribet mesti ngeluarin dari kantong :D. Dengan memiliki jam tangan, kita bisa dengan mudah mengira-ngira akan mengalokasikan waktu tilawah di pukul berapa sampai berapa, dan akan selalu ingat untuk segera tilawah setiap terjadi pergantian jam.
  • Kembali kepada motivasi kita. Percayalah bahwa dengan dekat dengan Al-Qur’an adalah jalan untuk meraih rida Allah, perbanyak berdoa kepada Allah, Allahummarzuqna tilawatil quran ana allail wa athra annahar. Waj’alhulana hujjatallana laa ‘alaina..

Wallahu’alam bishowab, semoga bermanfaat.. ^_^

Advertisements

Tinggalkan Komentar - Tidak Perlu Login

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s