Jadi Programmer

Udah lama sih saya gak ngeblog, udah berbulan bulan kali ya. Btw, jadi pengen ngeblog lagi karena pengen segera mengeluarkan/membuang isi yang ada di kepala saya, karena habis nulisin apa yang terlintas rasanya beban ada yang hilang *alahhhh*

Oke, jadi gini sekrang ni saya udah bukan mahasiswa lagi. Kerjaannya tiap hari jadi tukang ketik a.k.a programmer. Waw, buat kalian yang penasaran profesi programmer itu apa dan mungkin kalian kelak bercita-cita jadi programmer, wah tepat sekali kamu sedang membaca tulisan yang kali aja bisa dapetin inspirasi.. hehe

Awalnya saat masih mahasiswa saya gak kebayang tuh kalau di dunia it (konsultan it) pekerjaan digolongkon ke dalam dua hal mendasar: 1. teknik 2. managemen. Jadi gini, golongan 1 itu adalah mereka yang berprofesi sebagai eksekutor, dan golongan dua lebih kepada perencana atau pendesain. Sebenernya di mata kuliah management project udah di ajarin kali ya, cuma kayaknya waktu itu belum sadar betul, dan sekrang baru menyadarinya, hehe..

Tau gak sih kalau programmer itu kerjaanya di kejar-kejar? haha ya bahasa sih begitu, tapi enggak sebenarnya kita itu implementator dari desain yang udah ada, desain itu bisa berupa dokumen yang berisi rencana sistem yang akan di buat. Di dalam tim project, tentu ada bagian-bagian yang punya fungsinya masing-masing. Pasti suatu tim project ada yang namanya bagian penguji/tester biasanya sih sebutannya Quality Assurance/qa, nah mereka inilah pada pelaksanaanya, kita dikejar-kejar sama mereka eh di kasih tau implementasinya belum sesuai desain.. haha.. Tentunya juga ada bagian yang lain ada bagian yang membuat desain bisnis prosesnya atau biasa disebut Business Analys/ba, bagian support, bagian integrator, tentunya pm/project manager, dll lah ya sesuai kebutuhan dan setiap perusahaan biasanya tidak baku melulu terdiri dari bagian yang seperti itu.

Tapi tau gak sih, ternyata dunia programmer tidak hanya tentang menuliskan kode kemudia execute dan bisa jalan tuh aplikasinya. Oke, dari luar memang bisa berjalan dan fungsinya berjalan sesuai kebutuhan user, tapi dari sisi penulisan kode? Hehe bagian ini, kamu akan menemukan sesuatu yang menarik, dimana ternyata dalam menulis kode itu tidak boleh asal-asalan, gak boleh asjal alias asal ajal. Karena apa? Karena agar bisa digunakan kembali a.k.a reusable dan so pasti gak bikin programer lain/baru pusing saat mencoba memahami kode yang kita tulis.

Tentu saja, programmer profesional dituntut untuk menulis kode sesuai etika pemrograman a.k.a konvensi dan bagian yang menarik adalah tentang design pattern, ini adalah bagian fundamental, if you grab it, you will be smile 🙂 Begini, mungkin ada sebuah pernyataan, dunia it terus berkembang dengan cepat, java saat ini berbeda dengan java 5 tahun kedepan, lantas kita akan terus disibukan dengan mempelajari teknologi baru yang dibuat oleh orang luar negeri, dan kita hanya bisa sebagai pemakai yang terus-terusan dibuat belajar tentang hasil teknologi yang terus berkembang. Ok, in my view, pertama kita akui saja ya, kalau kita bukanlah inventor, so? Kita pakai produk mereka, ya programmer juga disebut pengguna, mungkin orang umum melihat programmer sebagai pembuat, tapi sebenarnya kita programmer juga pemakai karena bahasa pemorgraman itu sendiri juga diciptakan, hehe.. Bukan pesimis ya, tapi saya gak tau mungkin puluhan atau ratusan tahun mendatang Indonesia akan mengahasilkan teknologi yang bisa menggeser php, java, .net, sap, owh its a very big dream!

Oke, pelajaran pertama yang didapat adalah jangan fokus pada “saya harus menguasai bahasa java” no, but say “jika saya kuasai paradigma oop, design pattern saya akan mudah untuk menguasai bahasa oop apapun” yes, kuasailah hal yang menjadi fundamental! Bukan sintaks java nya tetapi paradigma oop nya, paradigma oop bukan hanya tentang objek, objek itu adalah penciptaan dari kelas, dan kelas adalah cetakan untuk membuat objek, ya itu adalah dasar dan sangat dasar, kamu akan semakin menemukan “misteri” *alahhh* pemrograman oop jika kamu semakin lama berinteraksi dengannya, tentu berbeda pengalaman programmer 10 tahun dengan 6 bulan kan??

Experience cant be produce! Pengalaman tidak bisa diciptakan, kita harus berkecimpung didalamnya dalam waktu yang tidak sebentar dan dengan sungguh-sungguh dan mencintai profesi tersebut. Ini adalah pelajaran kedua, bersyukurlah dengan tidak menyia-nyiakan waktu belajar di kampus, kita belajar banyak hal dasar disana.

Ok, balik lagi apa itu desing pattern? Maap ni ye, tulisannya loncat-loncat namanya juga random thougt, hehe jadi pengertiannya adalah pola penyelesaian untuk masalah yang sepesifik yang sudah digunakan berulang-ulang dan dalam waktu yang lama. Ok, mungkin nanti ada kesempatan kita tulis tentang desing pattern.

Oiya, ini baru bahas tentang golongan pertama teknik ya, belum golongan kedua : managemen. Oke, mungkin sedikit aja pembahasannya, karena sekrang ni saya juga lagi ngerjain project, jadi selingan gitu ngeblog buat mengalihkan pikiran yang dari tadi ngoding supaya tetap rileks, hehe..

Jadi gini singkat aja, pernah denger istilah ini pasti, kecerdasan iq mah tidak terlalu berpengaruh pada kesuksesan seseorang, tetapi kecerdasan emosional lah yang sangat mendominasinya. Oke, kenyataanya para bos-bos dan eksekutif mayoritas mereka bukan berlatar orang yang emotional quetiont nya rendah, tau gak sih mereka itu pedagang haha, percuma bro kata temen saya “lu punya produk/aplikasi bagus (pake teknologi terbaru dll) tapi lu gak bisa menjualnya” kena loh, saya jadi inget lagi perkataan om saya, “kalau top level nya berbasis management pasti gajinya kecil, tapi kalau top levelnya programmer beda lagi (mungkin karena mereka tau rasanya jadi programmer)”

Di jakarta ini, sangat banyak bertebaran perusahaan dari mulai yang lokal sampai yang top class macam BCG, MC Kinsey, accenture, AT Kerney dkk nya. Buat masuk ke perusahaan mereka gak main-main broh, BCG cuma nerima anak magang dari 2 PTN ternama, mereka yang kerja disana lulusan top univ like harvard, atau colombia,  in there you like a people with very high mobile, but tentunya ilmu, pengalaman, dan gaji benar-benar diluar dugaan. Kebanyakan pegawai mereka kemudian mendirikan perusahaan sendiri, dan hasilnya tentu bisa di tebak kan?

Yah, tapi kita harus selalu bersyukur teman, mungkin dulu kita kurang bersungguh-sungguh saat persiapan masuk ptn, tapi kita tidak boleh larut dalam penyesalan, dan harus selalu bersyukur dengan keadaan kita dan memberikan yang terbaik sebagai bentuk rasa syukur, kata temen saya “pokoknya ditekuni saja”, kata bapak saya “nanti juga akan menemukan jalannya (passion kita)

Jadi apakah kita harus langsung banting steer dan memilih jadi business analyst atau jadi sales, no! kita harus selalu bersyukur atas apa yang kita jalani sekarang ini, terus tekuni dan nanti akan temukan jalannya!

next, lanjut ngoding dulu hehe

Advertisements

Tinggalkan Komentar - Tidak Perlu Login

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s